Untukmu, Indonesiaku.

Happy 66th Independence Day, Indonesia. And this is my gift to you.

“Akan Tetapi Aku Tidak Melakukan Apa-Apa”

Marcella Purnama
Written on March 16,2010. Edited on August 17, 2011.

Untukmu, Indonesiaku.

Where are you from?” (Dari manakah asalnya kamu?) tanya mereka seringkali.

Dan aku akan menjawab, “I’m from Indonesia.” (Saya dari Indonesia).

Oh, an Indonesian! I’ve heard Bali is such a good place. Never been there though. And the food is good, isn’t it?” (Oh, orang Indonesia! Saya dengar bahwa Bali adalah tempat yang sangat indah, walaupun saya belum pernah pergi ke sana. Dan makanannya enak! Bukankah begitu?)

Yeah, they are really good,” (Ya, betul sekali), jawabku seringkali.

Bali. Pantai. Alam. Makanan. Budaya. Ada banyak hal yang bisa dibanggakan dari Indonesia. “Pasir putih dan laut yang membiru,” kutip sebuah iklan di Cinema 21. “Kenali neg’rimu, cintai neg’rimu,” katanya.

… Untuk apa?

Di sana ada sebuah gubuk tua, penuh dengan memori. Kayu-kayu yang semula kokoh, sudah rentan dan koyak karena usia. Atap dari gubuk itu mulai bocor. Jika musim hujan tiba, tak kuatlah sang kayu menahan hujaman tetesan-tetesan air yang tak memberi ampun.

Gubuk itu rentan, rusak dimakan usia. Akan tetapi ia bertahan, demi melindungi sang Nenek yang tinggal di dalamnya. Seakan menjawab panggilan Beliau, “Bertahanlah, sedikit lagi hujan akan reda. Setelah itu, warga akan membantu merenovasi kamu. Percayalah.”

Tapi bantuan tak pernah datang.

Dan gubuk itu terus menunggu, menemani sang Nenek.

“Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan”

Tanah Airku – Ibu Sud

Jika kita ingat-ingat lagi lirik lagu ‘Tanah Airku’ karangan Ibu Sud, sebenarnya mengapa kita membanggakan tanah air kita? Apa bedanya Indonesia dengan Amerika, Australia, Kanada, dan lain-lainnya?

“Beda letaknya!” ya sudah pasti. “Beda musim, budaya, dan bahasa!” itu juga benar. Tapi toh semuanya sama, terbuat dari tanah dan air; ada darat, laut, dan udara. Bumi masih planetnya; manusia masih yang mendiaminya. Pasir putih, laut biru, flora, dan fauna; mereka ambil bagian di semua tempat.

Apa bedanya?

Indonesia penghasil rempah-rempah; Perancis penghasil anggur. Indonesia negara kepulauan; Swiss negara pegunungan. Yah, makanan pokok orang Indonesia adalah nasi, dan orang Barat adalah kentang.

Tapi sekali lagi, untuk apa?

Sesekali sang Nenek pergi ke kota. Karena kemajuan teknologi, para warga mulai pindah, pindah, dan pindah. Satu per satu mereka pindah. Sang Nenek senang akan perkembangan jaman, tetapi ia tetap memilih untuk tinggal di desa. Beliau menganggap walaupun kota adalah suatu tempat yang maju, rumah tempat tinggalnya tetaplah ‘rumah’. Menarik memang, lebih indah memang. Tetapi…

Ketika sang Nenek pulang ke desa, apa yang dilihatnya lebih menyakitkan hati. Semua orang mulai ribut akan pindah ke kota. “Di desa ini tak ada apa-apa,” kata mereka, “sudah ketinggalan jaman. Lebih baik kita cepat-cepat pindah ke kota, peduli amat mengenai desa ini.”

Sang Nenek menahan air matanya.

Betapa menyakitkan melihat seseorang menolak keberadaan kampung halamannya sendiri.

“Aku bangga menjadi orang Indonesia. Di sini terdapat surga flora dan fauna. Di sini ada komodo dan badak bercula satu yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Di sini ada Bali – dengan keindahan pantai dan beraneka macam budaya yang ada di sana. Di sini adalah negara penghasil rempah-rempah. Mungkin orang akan berkata bahwa, ‘Indonesia tak ada bedanya dengan negara-negara lainnya! Untuk apa kita banggakan?’ Tetapi jawabku, Indonesia tetaplah Indonesia. Tak perlu ada alasan lain. Di sinilah tanah kelahiranku, tanah airku. Dan aku bangga padanya.”

Aku bangga.

“Dan aku mencintai Indonesia. Walaupun orang di luar sana bilang negara ini korup dan apa saja ‘dilegalkan’. Walaupun status negara ‘berkembang’ terus melekat di negara kita ini. Walaupun banyak tsunami, gempa bumi, dan bencana alam lainnya; di sini tetaplah tempat aku bertumbuh, tempat aku hidup. Dan aku cinta padanya.”

Aku cinta.

Sang Nenek mulai berjalan kembali ke gubuk tuanya. Tak ada satu warga pun yang mau membantu merenovasi satu-satunya tempat yang Beliau sebut ‘rumah’ ini.

“Sudahlah Nek, ikut saja kami pindah ke kota. Di sana hidup Nenek akan jauh lebih baik.”

Padahal, di gubuk inilah lahirnya sebuah kehidupan. Kehidupan sang Nenek, kehidupan para warga desa. Kehidupan sang ‘Desa’. Enam puluh lima tahun sudah usia sang Nenek. Enam puluh lima tahun sudah ia tinggal di gubuk tua itu. Di gubuk yang tua renta itu, enam dekade lalu dipenuhi tawa. Di gubuk yang sunyi dan ditinggalkan itu, enam dekade lalu dikobarkan semangat.

“Indonesia harus merdeka! Indonesia pasti merdeka!”

“Ibu Pertiwi, kami mohon pamit. Kami pasti akan memerdekakan Indonesia. Kami pasti akan menjaga sang Merah Putih tetap berkibar di langit biru!”

Sekarang?

… Sang Nenek mungkin akan merayakan ulang tahunnya yang ke-66. Berdua dengan gubuk setianya. Sang Ibu Pertiwi ini, akan tetap bangga dengan warganya, dengan bangsanya. Seperti seorang Ibu yang akan tetap mencintai anaknya, demikian pula sang Ibu Pertiwi. Walau tak seorang pun, membantu merenovasi gubuknya. Tempat tinggalnya. ‘Rumah’nya.

Aku seorang Indonesia. Dan aku bangga karenanya. Aku bangga akan negaraku dengan segala kelebihannya. Aku bangga akan tanah airku dengan segala kekurangannya. Dan aku mencintai negaraku.

Akan tetapi… Aku tidak melakukan apa-apa.

Aku hanya duduk diam; melihat kayu-kayu gubuk itu mulai koyak, melihat api yang mulai padam.

Aku menunggu orang lain melakukan sesuatu.

Tetapi orang lain tak pernah datang.

Dan kesempatan itu lewat.

Aku bangga akan bangsaku. Dengan sejuta kebudayaan yang ada dan sejuta suku-suku lainnya. Merah darahku, dan putih tulangku. Kukibarkan sang ‘Merah Putih’ di singgasananya.

Akan tetapi… Sekali lagi, aku hanya berpangku tangan. Aku turun dari panggung sebelum pertunjukan usai, menunggu orang lain untuk melakonkan adegan yang seharusnya menjadi bagianku.

Tetapi orang lain tak pernah datang.

… Ibu pertiwi masih tetap tersenyum. Menunggu seseorang melakukan sesuatu. “Bangga,” kataku. “Cinta,” ujarku.

Akan tetapi pada akhirnya, aku tidak pernah melakukan apa-apa.

—–

“…dan entah kenapa kamu adalah orang yang bagaimanapun jeleknya berita di Koran dan… sebobrok apapun negara ini kamu bilang kamu sangat mencintai negara ini.”
(kutipan dari buku 5 cm, karya Donny Dhirgantoro)

“Saya, Ian… saya bangga bisa berada disini bersama kalian semua, saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya… saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya…”
(kutipan dari buku 5 cm, karya Donny Dhirgantoro)

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.”
“Negeri kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara. Berjiwa besarlah, berimagination. Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia”.
(Bung Karno)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s