Life is beautiful.

I can’t believe that I’m going to post this. Hahah =p.

I made this writing yearssss ago, and when I read it back I feel so embarrassed, but I don’t know why,… hmm, I guess, whatever happens it is still my writing ;), and I guess…again… even though yes, I AM EMBARRASSED, but there is some sense of weird pride in it =p hahah.I’ve been thinking to rewrite it or edit it but then I don’t want to ruin my ‘perfect’ story once I was fifteen lol. so here it goes…

soo… enjoy ;p (sorry if it’s in Indonesian and it looks like crap! xp)

——-

Life is beautiful

“Ko Dicky, ada pesawat terbang!” ujar sepupuku yang baru berusia 5 tahun.
Aku melihat ke atas, dan benar, ada sebuah pesawat terbang. Ketika melihat pesawat itu melintasi langit biru dari kejauhan, pikiranku mulai menelusuri kenangan yang tak akan pernah kulupakan. Kenangan tentangmu.

Aku tak ingat kapan pertama kalinya kita bertemu, atau kapan pertama kalinya kita mengobrol; tapi aku ingat pertama kalinya kau mengajariku tentang suatu hal yang sangat berharga. Hidup, itu indah.

“Hei, Dicky, jangan ngelamun dong! Ngelamunin siapa sih loe? Mau putusin cewe loe lagi ya?” kata Marcel, sambil mengambil bola basket dari tanganku.

“Yee, tuh cewe mah uda gw putusin dari berhari-hari yang lalu! Telat amat sih loe!”

“Hah? Bukannya baru 3 hari yang lalu loe ngenalin gw sama cewe baru loe?”

“Eh? Iya ya? Hari Rabu tuh kapan?”

“Kemaren.”

“Yaaa, berarti baru kemaren gw putusin cewe gw.”

“Dasar playboy! Berapa cewe sih mau loe pacarin?”

“Yaa, buat ngisi-ngisi waktu luang aja. Sirik banget sih loe. Hahaha, tuh kan, kecolongan lagi!”

“Dicky!”

Ya, itulah aku, hidupku. Seorang kapten basket cowo SMA yang sedang menjalani masa-masa seniornya dengan hambar. Orangtuaku kaya, otakku lumayan, tampang pun oke (bukannya sombong yee…), dan aku lumayan terkenal di kalangan cewe-cewe. Ya gitu deh, kurang apa lagi coba?

Tapi sebenernya, kurang semuanya. Hidup ini terasa hambar buatku. Ga ada tantangan. Ga ada beban. Ulangan? Yah, baca-baca dikit, insting dikit, trus nyontek-nyontek dikit bisa lulus lah… Keuangan? Kayaknya ga perlu ditanya deh. Cewe? Banyak tuh yang ngantri. Tapi kayaknya ada ruang kosong, yang ngga bisa kupikirin itu apa, tapi kerasa, kayak hidupku ini ga ada artinya. Setiap hari hanya ngelakuin rutinitas biasa, ga ada yang berbeda. Sampai suatu hari.

Dia ngga kaya, dia juga ngga cantik seperti cewe-cewe lain. Tapi ada sesuatu dari dirinya yang membuatku tertarik. Dia selalu tersenyum, dan kalo ada di deket dia, rasanya… damai. Setelah pengenalan lebih jauh dengannya aku baru tahu penyebab kedamaian itu adalah karena ia hidup dengan memancarkan kasih Tuhan.

Pertemuanku dengannya yang kesekian kalinya baru berkesan. Walaupun nampaknya dia sekelas denganku selama 3 taon terakhir dan bahkan sempat duduk sebelahan, aku tak pernah memperhatikannya. Hari itu hujan, dan klub basket baru saja bubar dari latihan sorenya. Aku sih tak perlu kuatir, supirku plus dengan mobilnya pasti sudah menungguku di gerbang sekolah. Tapi waktu aku baru mau naik mobil, kulihat seorang cewe sedang memberikan payungnya kepada seorang anak jalanan.

“Ngapain loe ngasi payung loe ke anak itu? Semua orang juga tau dia anak jalanan yang suka minta-minta di gerbang sekolah kita.”

“Kalo aku ga kasi payungku ke dia, pasti dia jadi sakit,” katanya sambil tersenyum. Dengan senyuman itu pulalah dia berjalan pergi di tengah hujan. Aku kaget.

Keesokan harinya dia tidak masuk sekolah. Mungkin sakit gara-gara kehujanan kemaren. Dan aku masih sempet berpikir ‘tau rasalah tuh cewe, pake ngasi payung ke orang laen segala.’ Tapi sejujurnya dalam hatiku aku berpikir. Untuk apa dia melakukan itu? Buat apa dia susah-susah pulang kehujanan ampe sakit, buat seorang anak jalanan?

Sepulang sekolah aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Ibunya yang membukakan pintu. Aku kaget banget, waktu ibunya bilang bahwa ia sedang ada di rumah sakit.

‘Mana mungkin kehujanan sehari buat dia sakit sampai separah itu,’ pikirku. Beberapa hari setelah itu baru kuketahui bahwa badannya lemah dan ia sering sakit-sakitan.

Aku masih ingat bau rumah sakit pada hari itu. Dengan gugup kutanya seorang suster di mana kamar 1523. Ia menunjuk pada bagian kanan dan akupun mulai berjalan ke sana. Di depan pintu yang bertuliskan “Fiona S. Hasuma”, aku mengetuk.

Kubuka pintu kamarnya, dan betapa terkejutnya aku bahwa ia sedang memakai alat bantu pernafasan, bersamaan dengan infus di tangannya. Kehujanan bisa membuat orang jatuh sakit begini? Kurasa tidak.

Mukanya kaget sekali waktu melihatku. Ia buru-buru melepaskan alat bantu nafasnya dan berbicara secara tergugup.

“Ko-kok kamu di si-sini?”

“Eh, ehm, tadi kebetulan lewat rumahmu, kemudian ibumu bilang kalo loe dirawat di rumah sakit. Sok sih, kemaren ngasi payung loe ke anak jalanan segala.”

Betapa bodohnya aku, orang sakit malah dipanas-panasin.

“Gapapa kok,” katanya sambil tersenyum, “aku ngelakuin itu karena aku suka.”

Aku ngobrol agak lama dengannya kemudian pamitan pulang. Tapi, ada satu kalimat yang ga bakal aku lupain ampe kapanpun.

“Hal apapun bisa dibuat indah kalau kamu menaruh sukacita di dalamnya.” Aku bertekad, aku mau mengenalnya lebih jauh.

“Ko Diiickkkkyyy-yyyy, kok bengong sih??”

Seruan sepupuku membuyarkan lamunanku. “Iya, iya, sori deh tadi koko lagi mikirin sesuatu.”

“Mikirin siapa nih koo? Pacar koko ya??”

“Hush! Kamu masih kecil ah! Sana ke Tante dan cuci tangan!”

Yah, bukan pacar sih, hanya seseorang spesial. Persahabatanku dengannya mengubah hidupku luar dalam. Dari dialah aku belajar bagaimana menikmati hidup. Bagaimana cara berhenti sejenak dan menghirup udara segar, cara melihat bintang-bintang di tengah malam, cara berterima kasih karena hujan membatalkan pertandingan basket kami, cara berbagi, cara mensyukuri hidup, dan terlebih lagi, cara hidup di dalam Tuhan. Oh, jangan salah, dari kecil aku seorang Kristen, tetapi hanya di KTP (yah, sebelum di KTP di kartu pelajar). Fiona-lah yang membukakan mataku. Dan ternyata kekosongan yang selama ini kucari ada di dalam Tuhan.

Aku tahu pertemuanku dengannya pasti adalah rencana Tuhan, and I thank HIM greatly for that. Tetapi setengah tahun yang lalu, dokter mendiagnosis bahwa ia terkena suatu virus dan harus diperiksa lebih lanjut di luar negeri. Sewaktu aku mengantarnya ke bandara, sambil menahan tangis sebisa mungkin, kucium tangannya. Aku berjanji bahwa waktu ia kembali nanti aku sudah akan menjadi pria yang mapan dan dewasa, secara karakter, maupun secara rohani. Dia pun tersenyum dan berkata, “aku sayang kamu, dan Tuhan juga menyayangimu. Hidup itu indah.” Ia pun berbalik dan menaiki pesawatnya.

Yang terjadi selanjutnya, tak akan aku lupakan. Pesawatnya jatuh, semua penumpang meninggal. Aku sempat marah kepada Tuhan dan menyalahkan-Nya untuk semua yang telah terjadi. Tapi setelah bergumul berbulan-bulan, Tuhan berkata kepadaku, “Fiona milik-Ku, dan ia telah menunaikan tugasnya di dunia, mengembalikanmu pada-Ku. Ketahuilah, jalan-Ku adalah yang terbaik.” Seketika itu juga akupun sadar dan meminta ampun kepada Tuhan. Kemudian, aku merelakan kepergiannya.

Seringkali aku berpikir bagaimana kehidupan Fiona kalau sekarang ia masih hidup. Masihkah ia sakit-sakitan? Ataukah ia menjadi seorang perawat sebagaimana diimpikannya? Atau akankah dia hidup sengsara dengan tubuhnya yang lemah itu? Tetapi apapun yang terjadi, aku tahu, bahwa jalan Tuhan-lah yang terbaik.

8 January 2008

Marcella Purnama

Advertisements

3 thoughts on “Life is beautiful.

  1. u know me lah ^^ says:

    yahh.. ahhahaha.. i think that i’ve put my logo up there.. –> ^^
    not so lame.. it’s a good one.. ahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s