“Akan Tetapi Aku Tidak Melakukan Apa-Apa”

Last holiday, I made an essay about “bangga Indonesia”,, check it out lol ;)

“Akan Tetapi Aku Tidak Melakukan Apa-Apa”

Where are you from?” (Dari manakah asalnya kamu?) tanya mereka seringkali.

Dan aku akan menjawab, “I’m from Indonesia.” (Saya dari Indonesia).

Oh, an Indonesian! I’ve heard Bali is such a good place. Never been there though. And the food is good, isn’t it?” (Oh, orang Indonesia! Saya dengar bahwa Bali adalah tempat yang sangat indah, walaupun saya belum pernah pergi ke sana. Dan makanannya enak! Bukankah begitu?)

Yeah, they are really good!” (Ya, betul sekali), jawabku seringkali.

Ketika seseorang mengatakan kewarganegaraannya, “Saya adalah orang Indonesia,” ada dua kejadian yang bisa berlangsung. Yang pertama adalah apakah orang tersebut dengan bangga menyadari bahwa ia adalah bagian dari Indonesia; ataukah orang tersebut secara ‘malu’ menyatakannya. Sangatlah disayangkan bahwa sangat sedikit orang Indonesia yang bisa mengucapkan lewat mulut dan keluar dari hati bahwa ya, saya bangga sebagai orang Indonesia.

Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya, apa sih arti dari kata ‘bangga’ itu sendiri?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bangga secara nasional diartikan sebagai ‘sikap kejiwaan yang terwujud, tampak pada sikap menghargai warisan budaya, hasil karya, dan hal-hal lain yang menjadi milik bangsa sendiri.’ Jika boleh dikata, kata bangga terdiri dari dua bagian. Bagian yang pertama adalah kesadaran akan rasa cinta tanah air – serta rasa bangga yang dibentuk kemudian. Bagian yang kedua, menyangkut refleksi kita terhadap rasa bangga itu sendiri – bangga Indonesia, lalu apa tindakan kita?

Menyangkut bagian yang pertama, rasa bangga ini sendiri, tentu saja tidak bisa terbentuk begitu saja. Lahir di Indonesia, besar di Indonesia, dan menjadi orang Indonesia bukanlah jaminan bahwa akan terbentuk rasa ‘bangga Indonesia’. Perlu ada proses, perlu ada waktu. ‘Bangga Indonesia’ dapat terbentuk lewat beberapa hal, di antaranya yang terpenting adalah: karena adanya sense of belonging atau rasa penerimaan, rasa sayang, dan prestasi.

Sense of belonging atau rasa penerimaan bisa kita sambungkan dengan berbagai hal; sebagai contoh: rasa penerimaan dalam keluarga, tempat, suatu grup religi, ataupun bangsa. Ketika kita mengatakan I belong to something, kita akan menjadi suatu bagian dalamnya. Inilah dasar perasaan ‘bangga’ Indonesia – kesadaran bahwa kita adalah bagian dari bangsa Indonesia dan kita belong di tanah air kita ini.

Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak bangga. Pernah nonton di cinema 21? Pasti kita sudah hapal dengan lirik lagu iklan yang berkata, “Hai remaja Indonesia, kenali neg’rimu, cintai neg’rimu.” Tanpa sebuah perkenalan, tak mungkin kita bisa menyayangi seseorang. Sama saja dengan Indonesia. Apa bisa kita bilang cinta Indonesia jika kita sama sekali tak mau tahu tentang Indonesia ini? Dan apakah kita bisa bilang bangga, jika kita tidak mencintainya?

Hal yang lainnya adalah prestasi. Ketika Rudy Hartono, pemain bulutangkis Indonesia menjuarai All England untuk kedelapan kalinya dan masuk Guinness Book of Record, apakah rakyat tak ikut bangga bersamanya? Ketika Stephanie Senna, seorang siswi Indonesia, mendapat medali emas di IBO (International Biology Olympiad) 2008 yang lalu, apakah rakyat tak ikut bersorak bersamanya? Kita bangga akan mereka – mengapa? Karena prestasi mereka membawa serta nama Indonesia.

Masih banyak alasan lain untuk kita dapat merasa bangga terhadap Indonesia. Tetapi, seringkali banyak orang hanya menafsirkan setengah pertama arti dari bangga, dan tidak setengah akhirnya.

KBBI dengan tegas menulis, “tampak pada sikap…” yang membawa kita pada bagian yang kedua: apa gunanya kalau hanya bangga dalam kata-kata, dan tidak pada perbuatan? Semua orang bisa berkata, “Aku bangga akan Indonesia,” tapi berapa banyak orang yang berani berdiri di kala semua orang duduk, dan melakukan sesuatu?

“Merah Putih teruslah Kau berkibar
di ujung tiang tertinggi, di Indonesiaku ini
Merah Putih teruslah Kau berkibar
Ku akan s’lalu menjagaMu” (Bendera – Cokelat)

Siapa sih yang tidak tahu lagu yang berjudul Bendera karangan band Cokelat? Lagu ini adalah salah satu lagu yang nge-hit setiap tujuh belas Agustus dan menjadi lagu ‘wajib’ di setiap SMA yang mengadakan acara tujuh belasan. Pada tahun 2006, band ini pun menerbitkan sebuah album yang berjudul ‘Untukmu Indonesiaku’. Di dalamnya pun terdapat lagu-lagu wajib nasional kita yang telah di-remake dan di-aransemen ulang; di antaranya lagu ‘Tanah Airku’, ‘Satu Nusa Satu Bangsa’, ‘Halo-Halo Bandung’, dan lain-lain.

“Kami bikin album ini untuk memberi sesuatu bagi Indonesia yang tentunya sesuai dengan kemampuan Cokelat yaitu bermusik. Cokelat merasa, sudah saatnya melestarikan lagu nasional yang sekarang ini sudah tenggelam dari hinggar bingar oleh musik modern,” ujar Edwin, gitaris Cokelat. Disesuaikan dengan perkembangan jaman, serta taste musik anak-anak muda sekarang ini, Cokelat pun mengaransemen ulang lagu-lagu kebangsaan Indonesia menjadi pop modern dan sweet rock sesuai khas Cokelat. Lewat musik, Cokelat bisa menyalurkan rasa cinta tanah air dan rasa bangganya terhadap Indonesia.

“…dan entah kenapa kamu adalah orang yang bagaimanapun jeleknya berita di Koran dan… sebobrok apapun negara ini kamu bilang kamu sangat mencintai negara ini.” (kutipan dari buku 5 cm, karya Donny Dhirgantoro)

Cerita persahabatan yang ada di dalam buku ini, serta nilai nasionalisme yang ada di dalamnya membuat buku ini meraih best seller. Diceritakan bahwa enam anak muda yang bersahabat mendaki gunung Mahameru untuk menjalankan upacara tujuh belas Agustusan di puncak tertinggi di Pulau Jawa ini. Perjuangan tidak biasa yang mereka lalui ini mengubahkan hidup mereka untuk selama-lamanya. Tanah Ibu Pertiwinya ternyata kaya raya – indah!

Sang penulis, Donny Dhirgantoro, menaikkan rasa nasionalisme dengan cara yang sangat menarik – daripada sekedar berupacara tujuh belasan di lapangan terbuka, ia memilih untuk mendaki gunung sebagai simbolisme dari perjuangan bangsa ini sendiri. Suatu hal akan lebih indah didapat jika diperjuangkan. Anak muda jaman sekarang sudah melupakan jasa para pahlawan yang dulu mati-matian memperjuangkan tanah ini; seiring berkembangnya jaman, dan hebatnya teknologi yang ada.

“Saya, Ian… saya bangga bisa berada disini bersama kalian semua, saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya… saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya…” (kutipan dari buku 5 cm, karya Donny Dhirgantoro)

Kau tahu, ada orang yang menyalurkan kebanggaannya terhadap Indonesia lewat lagu, ada yang menyalurkannya lewat tulisan. Yang lain menyemangati dan yang lainnya lagi campur tangan dalam pemerintahan. Semua orang bisa melakukan sesuatu, sesuai dengan expertise mereka masing-masing. Tapi aku? Aku hanya mengatakan ‘orang lain’ sambil berpangku tangan, menunggu ‘orang lain’ tersebut melakukan sesuatu.

Aku seorang Indonesia. Dan aku bangga karenanya. Aku bangga akan negaraku dengan segala kelebihannya. Aku bangga akan tanah airku dengan segala kekurangannya. Dan aku mencintai negaraku.

Akan tetapi… Aku tidak melakukan apa-apa.

Aku hanya duduk diam; melihat api yang mulai padam.

Aku menunggu orang lain melakukan sesuatu.

Tetapi orang lain tak pernah datang.

Dan kesempatan itu lewat.

Aku bangga akan bangsaku. Dengan sejuta kebudayaan yang ada dan sejuta suku-suku lainnya. Merah darahku, dan putih tulangku. Kukibarkan sang ‘Merah Putih’ di singgasananya.

Akan tetapi… Sekali lagi, aku hanya berpangku tangan. Aku turun dari panggung sebelum pertunjukan usai, menunggu orang lain untuk melakonkan adegan yang seharusnya menjadi bagianku.

Tetapi orang lain tak pernah datang.

… Ibu pertiwi masih tetap tersenyum. Menunggu seseorang melakukan sesuatu. “Bangga,” kataku. “Cinta,” ujarku.

Akan tetapi pada akhirnya, aku tidak pernah melakukan apa-apa.

—–

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.”
“Negeri kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara. Berjiwa besarlah, berimagination. Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia”.
(Bung Karno)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s